Setelah mendapatkan keterangan dimana tempat wisata kuliner bakpia berada kamipun berangkat pagi pagi. Sengaja kami tidak banyak tujuan karena tujuan setelah ganti hotel jalan kaki adalah ke karaton dan ke daerah lain.
Ke daerah patuk selain untuk mengetahui daerah juga agar ketika membeli bakpia benar benar bakpia yang diinginkan. Mengingat pernah saudara beli bakpia tapi diajak oleh pengantar ke tempat yang bukan yang dituju karena ternyata sang pengantar dapat tips dari toko bakpia tersebut.
Ternyata daerah patuk itu dekat malioboro. Wajar jika tukang becak ketika di malioboro menawarkan harga sekitar 3.000 hingga 5.000 Dari malioboro belok kanan ke jalan pajeksan.
Sayang ketika melalui jalan pajeksan, sampah menumpuk lumayan banyak. Kontras karena dekat dengan pusat keramaian. Seandainya warga atau pemerintah setempat lebih peduli akan sampah akan lebih baik karena selama kunjungan mengitari dengan jalan kaki di kota yogya, jalan jalan begitu bersih dan mengapa justru yang dekat pusat keramaian sampah tidak terurus.
Setelah di ujung jalan pajeksan belok kiri ke jalan bayangkara. Melewati pasar patuk. Tidak jauh dari sini ada jalan KS Tubun disebelah kanan jalan.Memasuki jalan KS Tubun ini telihat sepanjang jalan yang jualan bakpia. Banyak merk bakpia di jalan KS Tubun tersebut. Yang namanya rejeki gak kemana. Ada saja yang beli walau belum terlalu terkenal. Walau ada juga yang sepi pembeli.
Setelah beli bakpia kembali ke hotel untuk bersiap pindah ke hotel berikutnya. Sungguh tak kerasan di hotel yang kedua. Jam 10 lebih kami meninggalkan hotel.
Sekitar jam 11 kami tiba di hotel Kirana di jalan Prawirotaman. Memasuki kamar peralatan mandi sudah tersedia.
Istirahat sebentar. Setelah sholat zhuhur kamipun berniat keliling kota yogya karena kalau dilihat dari peta ternyata kota yogya itu kecil.
Dengan jalan kaki kamipun menelusuri dari jalan prawiro taman, jalan parang tritis kemudian ada perempatan lurus ke jalan katamso. Di jalan ini singgah dulu untuk makan siang. Menikmati gule sumsum. Selesai makan melanjutkan perjalanan.
Belok kiri ke jalan Ibu Ruswo.Beberapa meter sebelum ujung jalan Ibu Ruswo ada jalan Wijilan disebelah kiri ( sebelum masuk ada gerbang, ektika ulang saya diberitahu kalau disitu ada wisata kuliner gudeg dengan harga murah), lurus terus hingga berujung lapangan dan ternyata di depan karaton. Tampak mobil parkir di lapangan tersebut. Ada sebuah mobil yang tidak mau diatur oleh tukang parkir, dengan sedikit sewot supir mobil tersebut ditegur. Dan akhirnya mobil tersebut parkir juga.
Dengan membayar tiket masuk sebesar 3 ribu rupiah dan ijin foto seribu rupiah kamipun masuk. Setelah mutar mutar ternyata kami hanya di halaman karaton saja.
Melihat oleh oleh yang lumayan bagus kamipun beli. Kami diberitahu bahwa untuk masuk ke karaton itu dari jam 9 pagi hingga jam 14.00 Namun pintu masuk sudah ditutup jam 13.30 sedangkan jam 14.00 pintu keluar baru ditutup. Dikatakan bahwa sang sultan masih tinggal di karaton.
Kami diberitahu bahwa kereta yang asli ada di bagian luar karaton. Kamipun masuk ke tempat tersebut dengan membayar 3 ribu rupiah dan ijin foto seribu rupiah. Kamipun berfoto foto.
Keluar dari tempat ini kami menelusuri lapangan untuk ke maliobroo untuk terakhir kalinya saat tafakur ini. Saat berjalan itu kami lihat banyak bis bis pariwisata yang baru datang. Kampiun berpikir kasihan meeka tadinya berniat untuk lihat karaton tapi yang didapat hanya halaman karaton saja. Seandainya saja ada pengumuman resmi yang menyatakan bahwa karaton dibuka jam 9 hingga jam 14.00 di pintu sebelum masuk dengan tulisan besar besar sehingga tak ada yang datang selain jam itu. Kasihan kan mereka ya termasuk kami juga.
Melewati monumen serangan umum sebelas maret lalu berfoto dulu di sekitar benteng vredeburg terus lurus ke jalan ahmad yani. Jalanan macet. Pantas saja sewaktu ke prambanan banyak trans yogya yang memutar tidak melalui jalan ini terutama jalur 1A.
Sampai di masjid DPRD kamipun sholat dulu disana. Tammpak iklan bahwa di area tersebut hot spot free wifi, tapi tak satupun yang kami lihat di masjid yang buka laptop lain halnya di bandung dan jakarta. Kalau ada yang hotspot free biasanya banyak yang buka laptop.
Selepas sholat ashar kamipun masuk ke malioboro mal. Bertemu dengan teman SD yang sudah lama tak bersua. Berdua dengan istrinya jalan jalan dan pulang kampung ke kampung istrinya. Setelah bercerita tentang hotel yang kami tempati ternyata intinya sama. Payah hotelnya. Walau ada yang bagus juga tapi mungkin kami mendapatkan yang kurang bagus. Mungkin juga banyak hotel di yogya yang bagus tapi mungkin sudah banyak dipesan karena kalau hotel bagus biasanya menjadi incaran karena kekuatan word of mouth.
Kamipun berpisah karena teman mau melanjutkan perjalanannya. Masuk ke gramedia mencoba melihat apakah buku saya yaitu magnet tanah suci ada atau tidak. Ternyata tidak ada berarti memang jualan di bandung dan sekitarnya dan juga jakarta kali ya karena belum pernah masuk ke gramedia di jakarta.
Pulang dari sana karena merasa tidak ada lagi yang akan dituju kamipun pulang kembali ke hotel. Mau ke kali urang sudah tidak ada waktu.
Kembali kami berjalan kaki pulang ke hotel. Ketika di jalan katamso ada tukang becak yang menawarkan ke prawiro taman namun kami tetap jalan.
Hampir mahgrib ketika kami sampai di hotel. Setelah makan malam kamipun menikmati hotel. Dengan tempat mandi yang enak, dengan air panas. Kamar yang bagus.
Kamipun memfoto kamar ini barangkali saja untuk kami tiru jika punya rumah nanti. Atau nanti mendesain yang lebih bagus dari kamar itu. Wallohu a’lam. Akhirnya kamipun tidur lelap.
Tidak mau ketinggalan artikel ? Subscribe RSS Dunia Fana !!
Lebih dari 200 artikel di blog ini. Artikel berdasar kategori (Archives By Categories
) dan berdasar tanggal ( Archives By Date ).

Bukumu ada digramedia Pondok gede dirak buku-buku islam yg dekat jendela samping tempatnya disekitar tengah-tengah rak.