Di jalanan kita lihat banyak polisi cepe ( istilah dulu ) yang “membantu” mobil yang akan memutar arah dan setelah mereka membantu banyak supir tersebut memberikan uang recehan. Lain lagi ketika seorang pengamen setelah mendendangkan satu atau beberapa lagu kemudian dia membuka topi atau dompet atau plastik bekas permen disodorkan ke satu per satu penumpang dengan harapan mendapatkan “simpati” dari para penumpang. Di tempat lain pula kita lihat seorang pengemis baik yang “menetap” maupun yang berkeliling dengan berharap ada yang memberi sedekah uang recehan. Bahkan di mesjidpun “masih” ada yang memberikan uang recehan saat kencleng berjalan.
Dari “uang recehan” yang disebutkan di atas ternyata bagi sebagian orang recehan merupakan rejeki yang dicari bak durian runtuh di satu sisi dan di sisi lain itu merupakan hal terkecil dari uang yang dimiliki seseorang. Namun keberadaan uang receh ini memang seakan akan antara dibutuhkan dan tidak bahkan oleh orang kaya sekalipun terbukti ketika memberikan ke polisi cepe atau memberi ke pengamen atau penyapu kaca jendela.
Uang recehpun dapat memberikan pahala yang berlipat jika diberikan dengan ikhlash baik itu ke mesjid maupun ke tempat lainnya bahkan ketika kita memberikan uang baik itu recehan atau besaran dan orang yang diberi itu mendoakan kita, kita tidak tahu doa dari orang mana yang dikabulkan oleh Alloh. Oleh karena itu baik itu recehan maupun besaran, dibutuhkan atau tidak tetap jika beramal akan berpahala namun tergantung apa ikhlas atau tidaknya ketika memberikan kepada orang lain.
Semoga apa apa yang kita keluarkan diberi ganti oleh Alloh dengan ganti yang berlipat ganda. aamiin.
Tidak mau ketinggalan artikel ? Subscribe RSS Dunia Fana !!
